Rabu, 20 Januari 2010

KHAS ADAT SAKTI ALAM KERINCI

MENARA DI LAPANGAN MERDEKA SUNGAI PENUH KERINCI

Dua orang pesilat unjuk kebolehan dalam sebuah pementasan seni pencak silat khas kerinci.
Dengan menggunakan senjata Pedang, jurus-juruspun dimainkan, atau yang lebih dikenal dengan nama " Langkah Tigo " atau ada juga yang memakai "Langkah Empat". Seni ini sampai sekarang masih tetap dilestarikan, terutama di pentaskan pada saat acara2 kenduri sko, penyambutan tamu undangan dsb.., semoga tetap lestari dan menjadi kekayaan budaya kerinci dan kebanggaan masyarakatnya





 Sirih Pinang yang terhidang didalam Carano, sebagai ucapan Selamat Datang bagi para tamu dan Undangan, karib kerabat dan Para Pemangku Adat yang bertandang ke Ranoh Kincai . . .
Sirih pinang disusun sedemikian rupa didalam sebuah wadah yang dinamakan "Carano" yang diselipkan juga dengan rokok enau atau rokok yang terbuat dari bahan nipah, dan disertai tembakau.
Konon tradisi ini sudah dilakukan oleh para nenek moyang dan orang 2 Tua dahulu dan masih dibudayakan serta telah menjadi Adat sampai sekarang . . .
 

 Tari Sike di gelar pada acara2 gotong royong dan kerja bakti, dinyanyikan oleh kaum wanita. Lirik2 yang berisi pantun2 dan cerita memberi nuansa yang khas dalam kegiatan GOTONG ROYONG, kaum bapak yang dengan semangat dan gigih bekerja merampungkan pekerjaan yang di iringi oleh "lagu sike" oleh kaum ibuk dengan penuh semangat pula.
Alunan pantun yang indah dan serasi menambah hangatnya atmosfir kebersamaan dan kekeluargaan. Seandainya anda berada langsung dalam moment ini dan menyaksikan langsung, pasti anda akan terbuai dan terbawa oleh suasana..hmm..Luar biasa..


Gimana asyik kan khas kerinci .....,,,, ni ada lagi di tambah denagan saksi sejarah islam ....,,,


MASJID -  ini adalah bagian dari saksi sejarah mengenai penyebaran Islam yang telah berlangsung sejak beberapa abad yang lalu di Kerinci. Dan juga saksi sejarah mengenai kemampuan dan kecerdasan masyarakat lokal dalam mendirikan sebuah bangunan. Arsitektur bangunan ini yang memiliki beberapa persamaan dengan masjid kuno lainnya di seluruh kawasan Nusantara, terutama bentuk atapnya, menunjukkan bahwa daerah Kerinci telah menjadi bagian dari daerah persebaran arsitektur Islam Nusantara, yang memiliki ciri dan pola tertentu. Salah satu indikasi dari adanya ciri dan pola tersebut adalah persamaan bentuk atap masjid kuno di seluruh kawasan Nusantara, termasuk di Kerinci.

Masjid Agung Pondok Tinggi dibangun secara bergotong-royong oleh warga Dusun Pondok Tinggi, Kerinci pada tahun 1874 M. Menurut catatan masyarakat tempatan, awal pembangunan dimulai pada hari Rabu, 1 Juni 1874 dan selesai pada tahun 1902. Cerita mengenai proses pembangunan masjid ini juga menunjukkan kultur komunal yang masih kuat berakar pada masyarakat Kerinci saat itu. Menurut kisahnya, sebagian besar warga dusun, laki-laki dan perempuan bergotong-royong mengumpulkan kayu untuk pembangunan masjid. Untuk meningkatkan semangat kerja, warga dusun juga mengadakan pagelaran berbagai seni pertunjukan tradisional Kerinci, di antaranya pencak silat.

Setelah kayu terkumpul dan fondasi berhasil dibangun, warga masyarakat kemudian mengadakan musyawarah untuk membentuk panitia pelaksana pembangunan masjid. Dalam musyawarah tersebut, berhasil disepakati empat orang pelaksana inti yaitu: Bapak Rukun (Rio Mandaro), Bapak Hasip (Rio Pati), Bapak Timah Taat dan Haji Rajo Saleh (Rio Tumenggung). Berkaitan dengan rancangan masjid, warga masyarakat dan panitia pelaksana memilih rancangan (desain) M. Tiru dari daerah Rio Mandaro. Untuk mengerjakan rancangan tersebut, kemudian dipilih 12 orang tukang bangunan yang dianggap telah memiliki keahlian yang mumpuni. Hasilnya adalah masjid yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Menurut cerita masyarakat, pembangunan masjid ini diawali dengan pesta keramaian selama 7 hari 7 malam, dengan menyembelih 12 ekor kerbau. Selain dihadiri oleh seluruh warga dusun, pesta keramaian tersebut juga dihadiri oleh seorang pangeran pemangku dari Jambi. Namun, nama pangeran tersebut tidak diketahui hingga saat ini.

Masjid Agung Pondok Tinggi terletak di Dusun Pondok Tinggi, Kecamatan Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Jambi , Indonesia . Sungai penuh merupakan daerah dataran tinggi, dengan iklim yang cukup sejuk dan lingkungan yang masih serba alami dan hijau.

Masjid Agung ini merupakan saksi sejarah kecerdasan masyarakat desa dalam mendirikan suatu bangunan. Dari kejauhan, kemegahan masjid tua ini sudah kelihatan. Tinggi bangunan dari lantai dasar hingga ke pucak atap lebih kurang 100 kaki (sekitar 30,5 meter). Sebagaimana atap masjid masjid tua lainnya di Nusantara, Masjid Agung ini juga memakai desain atap tumpang berlapis tiga, makin ke atas makin kecil, dengan bahan dari seng. Lapisan atap paling atas berbentuk piramidal. Menurut masyarakat setempat, susunan atap tiga lapis ini merupakan lambang dari tatanan hidup masyarakat Kerinci, yakni bapucak satau (berpucuk satu), barempe juroi (berjurai empat) dan batingkat tigae (bertingkat tiga). Secara ringkas, makna filosofis dari ungkapan di atas adalah: (1) berpucuk satu berarti menghormati satu kepala adat dan menjunjung tinggi kepercayaan pada Yang Kuasa; (2) berjurai empat artinya, di Dusun Pondok Tinggi terdapat empat jurai. Di setiap jurai terdapat seorang ninik mamak atau pemangku adat dan seorang imam. Jadi, terdapat empat orang pemangku adat dan empat orang imam; (3) bertingkat tiga artinya, masyarakat Pondok Tinggi tidak pernah melepaskan seko nan tega takak (pusaka tiga tingkat) yang terdiri dari pusaka tengnai, pusaka ninik mamak dan pusaka depati. Dari uraian di atas, tampak bahwa desain arsitektur masjid ini merupakan refleksi dari sebagian pandangan hidup masyarakat berkaitan dengan adat istiadat dan ketuhanan.

Masjid setinggi 100 kaki ini ditopang oleh 36 buah tiang yang besar dan kokoh, yang dibagi ke dalam tiga jenis, yaitu:

1. Tiang panjang sambilea (sembilan), berjumlah empat buah, membentuk segi empat pada ruang masjid yang paling dalam. Keempat tiang yang berasal dari batang pohon yang utuh dan kuat tersebut dinamai tiang tuo, mirip dengan sokoguru yang terdapat dalam arsitektur Jawa. Tiang tuo tersebut diberi paku emas untuk menolak bala, dan pada puncaknya diberi kain berwarna merah dan putih sebagai lambang kemuliaan. Belum didapat penjelasan, apakah pemberian kain warna merah putih ini dilakukan sejak awal masjid berdiri, atau setelah Indonesia merdeka, mengingat bendera nasional Indonesia adalah merah putih.

2. Tiang panjang limau, berjumlah delapan buah, membentuk segi empat pada ruang tengah.
3. Tiang panjang duea, berjumlah 24, yang membentuk segi empat pada bagian ruang yang paling luar.

Selain ketiga jenis tiang tersebut, masih ada beberapa tiang sambut yang dirancang menggantung, tidak menancap (tertajak) ke tanah. Desain menggantung ini dimaksudkan agar tiang tersebut memiliki daya lenting dan elastis, sehingga tahan terhadap gempa bumi yang memang sering terjadi di kawasan tersebut. Tiang-tiang tersebut juga dihiasi dengan ukiran bermotif flora.

Pasca kemerdekan Indonesia, masjid ini pernah dikunjungi oleh Mohammad Hatta, Wakil Presiden Republik Indonesia saat itu, dan Ruslan Mulyoharjo, Gubernur Sumatera Tengah. Saat ini, Masjid Agung ini masih berdiri megah, dengan dinding yang masih terbuat dari kayu (papan). Berbagai kegiatan dakwah Islam yang berpusat di masjid Agung masih terus dilakukan masyarakat, salah satunya adalah siaran radio untuk menyebarkan dakwah Islam di masyarakat.  Perancang masjid adalah M. Tiru, warga Dusun Pondok Tinggi. (sumber melayuonline.com dan Abdul Bakar Zein).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar